Kamis, 17 Maret 2011

Herman Wenas, Keliling Dunia Jalan Kaki


Herman Wenas, orang yang mencoba memecahkan rekor dunia dengan berjalan kaki sejauh 40.000 kilometer tiba di Semarang.
“Sebenarnya perjalanan ini merupakan etape pertama di Indonesia, yaitu Bali-Surabaya-Semarang, dan kebetulan kaki saya juga mengalami cedera,” katanya di Semarang, Jumat.
Menurut dia, akibat cedera yang dialaminya tersebut, perjalanan untuk etape kedua untuk sementara belum dapat dilanjutkan, sebab tim medis menyuruh dia beristirahat dulu.  “Rencananya, etape kedua nanti meliputi Semarang-Jakarta, namun saya belum tahu kapan memulainya,” kata pendiri perkumpulan Melangkah Bagi Generasi (MB Gen) tersebut.
Sebelumnya, kata dia, dirinya sudah melakukan perjalanan ke negara-negara lain, di antaranya Singapura, Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS), meliputi Hawai, Pantai Barat dan Timur.
“Saya memulai perjalanan dengan berjalan kaki sejak 2007 lalu, dan rencananya akan berakhir pada 1012 mendatang dengan menempuh jarak 40.000 kilometer,” kata Herman yang dalam setiap perjalanan selalu ditemani oleh satu orang yang berperan sebagai pendamping dan pemandu.
Ia mengatakan tujuan utama perjalanan tersebut memang untuk memecahkan rekor dunia, namun di sisi lain ia juga akan menggalang dana untuk membantu bidang pendidikan di Indonesia.
“Saya berniat mendirikan semacam pusat pelatihan di bawah MB Gen, yang akan memberikan pelatihan pendidikan yang mencakup pendidikan karakter, kepemimpinan, kewirausahaan, kesehatan, dan lingkungan hidup bertempat di Tangerang,” katanya.
Disinggung tentang jarak yang telah ditempuhnya selama kurun 2007-2009, ia mengatakan dirinya baru menempuh sekitar 10.000 km. “Perjalanan saya masih kurang sekitar 30.000 km lagi, namun saya tidak melakukan perjalanan secara terus-menerus, melainkan dilakukan per etape,” katanya.
Ia menjelaskan, pemecahan rekor dunia yang dilakukannya itu berbeda dari rekor dunia lain, khususnya rekor jalan kaki. “Biasanya, orang akan melakukan perjalanan dulu, baru melapor ke Guinnes Book of World Record, disertai dengan dokumentasi dan bukti lain,” katanya.


Namun, kata dia, dirinya melaporkan pemecahan rekor tersebut ke Guinnes Book of World Record, baru melakukan perjalanan, sehingga nantinya rekor yang akan dicetak tergolong baru.
“Rekor yang akan dicetak bukan berjalan kaki keliling dunia, namun rekor keliling dunia tercepat dengan jalan kaki,” katanya.
Berkaitan dengan persiapan penyambutan di Semarang, ia mengatakan, pada 17 Agustus mendatang akan disiapkan rute perjalanan antara Simpanglima-Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP).
Sementara itu, Direktur Utama PT. PRPP Jateng, Theo Sestu Nugraha mengatakan pihaknya menyambut baik rencana PRPP dijadikan salah satu rute pemecahan rekor tersebut.  “Kami telah mempersiapkannya dan berharap hal itu dapat semakin mendongkrak jumlah pengunjung yang datang ke PRPP,” kata Theo.
sumber :www.matanews.com

Jumat, 11 Maret 2011

Segudang Manfaat Berjalan Kaki

Berjalan kaki adalah olahraga yang paling murah dan paling mudah dilakukan. Itulah yang membuat jalan kaki menjadikan favorit banyak kalangan. Tak hanya menyenangkan, kegiatan yang satu itu ternyata juga memberikan begitu banyak manfaat bagi tubuh. Ingin tahu apa saja manfaatnya? Simaklah penjelasan di bawah ini.

1.Berjalan kaki dapat menurunkan tingkat kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) atau yang biasa dikenal dengan sebutan kolesterol jahat. Kegiatan ini juga dapat� meningkatkan produksi kolesterol HDL (high density lipoprotein).

2.Berjalan kaki termasuk aktivitas yang berdampak rendah, tak akan memberatkan sendi dan tidak mempengaruhi ataupun meningkatkan risiko terserang osteoarthritis layakanya aktivitas olahraga lainnya.

3.Berjalan dapat mengurangi risiko dari berbagai gangguan kesehatan.

4.Menurunkan tekanan darah, memperkuat sistem kardiovaskuler, mengurangi faktor risiko untuk perkembangan, dan meningkatkan pengelolaan diabetes melitus tipe 2.

5. Bagi Anda yang sedang berdiet ataupun berusaha menjaga bobot tubuh, berjalan kaki akan sangat membantu mendapatkan bobot tubuh yang diidam-idamkan.

6. Meningkatkan mood dan kekuatan fisik melalui latihan otot dan mengurangi kemungkinan terserang osteoporosis.(medicmagic/ULF)


sumber: http://kesehatan.liputan6.com

Jalan Kaki Jinakkan 9 Penyakit

STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan tergopoh-gopoh dan bukan jalan santai memang memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki.

(1) Serangan Jantung. Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup. Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.

Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

(2). Stroke. Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.

(3). Berat badan stabil. Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.

(4). Menurunkan berat badan. Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.

(5). Mencegah kencing manis. Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).

Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.

(6). Mencegah osteoporosis. Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis.

Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.

(7). Meredakan encok lutut. Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.

Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.

Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.

Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki. Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.

(8)  Depresi. Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.

(9). Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.


sumber: http://www.dechacare.com

Manfaat Jalan Kaki 30 Menit Sehari..


Lebih dari tiga juta kaum laki-laki -barangkali termasuk Anda- tidak mempunyai bayangan bahwa mereka segera menjadi korban suatu penyakit yang dapat merenggut penglihatan mereka, keperkasan mereka, bahkan nyawa mereka.
"Saya pernah menemukan laki-laki usia dua puluh tahunan yang tidak memiliki kemampuan seksual karena diabetes. Penyakit ini menyerang usia berapa pun. Dampaknya adalah krisis."
Sebuah penyakit yang menewaskan lebih dari 160.00 jiwa dalam setahun, kira-kira separuh diantaranya laki-laki.

Banyak laki-laki hanya angkat bahu dan menggelengkan kepala ketika ditanyai tentang kemungkinan terkena penyakit ini, karena gejala-gejalanya bisa tidak terlihat. Selain itu, sebagian diantara mereka masih mengira bahwa penyakit ini disebabkan oleh makan permen terlalu banyak.

Penyakit ini, tidak berhubungan dengan kebanyakan makan gula. Seseorang yang didiagnosis menderita diabetes ketika tubuhnya tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar.

Insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pankreas dan diperlukan untuk mengubah makanan menjadi energi . "Keterkaitan dengan gula", berpangkal dari kenyataan bahwa sebagian besar yang kita makan untuk dijadikan energi diuraikan menjadi sejenis gula yang disebut glukosa, yakni bahan bakar yang dibagikan kepada setiap sel agar kita hidup .
Bagaimana pun penderita diabetes harus membatasi asupan gula mereka, karena bahan ini dapat membuat kadar gula darah melonjak tinggi sekali.
Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan glukosa tepat sesuai kebutuhan dan menyimpan yang tersisa. Akan tetapi tanpa insulin yang berfungsi membuka reseptor sebuah sel sehingga glukosa dapat masuk, gula yang berlebih ini terkumpul dalam aliran darah dan dapat menyebabkan segudang masalah pada kaum laki-laki.

Cukup Rajin Berjalan Kaki

Hidup bersama penyakit diabetes memang tidak nyaman. Selain bisa mengundang komplikasi, diabetes membuat orang bergantung pada obat dan harus menjalani diet ketat seumur hidup. Padahal, salah satu kiat untuk mencegah penyakit ini sebenarnya gampang saja, cukup rajin berjalan kaki.

Latihan ringan jalan kaki yang disertai diet bisa mengurangi kemungkinan seseorang terkena diabetes, bahkan pada orang yang berisiko terkena penyakit ini. Begitulah kesimpulan penelitian terbaru yang dilakukan Lembaga Nasional Untuk Diebetes, Penyakit Ginjal, dan Percernaan Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperkuat dalam skala yang lebih kecil yang dilakukan di Finlandia dan Cina.
Penelitian selama tiga tahun ini melibatkan 3.234 sukarelawan berbobot tubuh di atas rata-rata dan memiliki risiko terkena diabetes. Para sukarelawan yang terdiri atas orang Afro-Amerika, hispanik, Asia dan Indian itu melakukan diet dan jalan kaki. Ternyata dengan mengurangi 5-7 persen bobot tubuh (rata-rata 4,5-6,8 kilogram) disertai jalan santai 30 menit sehari, kemungkinan terserang diabetes berkurang hingga 58 persen.

sumber: www.dinkes-kabtangerang.go.id